Perlahan, bayang perempuan itu menjauh, menipis, kemudian hilang terbawa angin. Tidak ada lagi tanda-tanda dia pernah ada di sana. Suaraku yang meraung-raung memanggil namanya, hanya bergaung di kepalaku saja.
Ini hari ke sembilan puluh dua.
Aku sudah bertekad untuk melupakanmu setidaknya pada hari ke seratus, lagi-lagi nama dan wajahmu muncul di tempat-tempat yang tak ku kehendaki. Aku seharusnya melupakanmu sesegera mungkin, mengingat-ingat tentang mu sudah tidak perlu lagi.
Tapi, bukan kah itu alasanku sebelumnya kenapa kamu adalah tempatku pulang?
Karena memang seharusnya begitu Tiara, memang seharusnya begitu.
Kamu berkali-kali muncul di ingatan bukan karena tak ada alasan, menjadi satu-satunya pengharapan bukan karena tak ada peraduan. Kamu segalanya, Tiara.
Aku yang kehilangan perempuannya karena menyerah untuk hal-hal yang sepele. Aku yang tidak mempertahankanmu karena memberi ruang pada egoku sendiri. Aku seharusnya menjagamu, menepuk pundakmu saat kamu sedang butuh-butuhnya.
Aku sadar, aku telah menjadi laki-laki yang lemah sekali. Tidak memperjuangkan sebesar apa yang kamu usahakan. Selalu mempertanyakan keberadaanmu di mana, padahal kamu yang selalu ada disana. Berkali-kali mengecewakan tetapi kamu hanya tersenyum saja.
Berhentilah berputar-putar begitu di kepalaku, aku sudah kehabisan akal bagaimana melenyapkanmu. Botol hijau itu tidak memberi efek sama sekali, hanya membuatku muntah dan kepalaku serasa berputar saja. Tidak berguna.
Tenang saja, bila dalam delapan hari kedepan nanti kamu masih saja ada di sana, akan aku susul kamu sesegera mungkin. Langsung dan cepat.