"Apa alasan kalian berharap?" - John Green.
Ternyata memutuskan mengejar mimpi yang dicita-citakan tidak selalu terasa benar, tidak selalu menjadi penanda bahwa kita berada di jalur yang menenangkan. Sebab terkadang, konsekuensi yang dihadapi selalu setara dengan besar mimpimu sendiri.
Tapi, melepaskan apa yang selama ini diperjuangkan, lagi-lagi ternyata lebih berat, ketimbang jatuh bangun untuk memperjuangkan mimpi itu sendiri.
Berulang kali menyakinkan diri bahwa mimpi yang sedang dikejar selalu mempunyai ujung yang baik, tidak pula membuat merelakan terasa teringankan.
Skala prioritas menyuguhkan daftar-daftar yang harus dipenuhi dahulu, mana yang lebih baik dikejar atau ditunggu, mana yang lebih baik diselesaikan waktu atau laku. Sambil berharap ini sudah benar dan itu sudah seharusnya begitu.
Lagi-lagi, ketenangan hati dipertaruhkan; mengikuti ambisi atau nurani? Bertahun-tahun menghidupi diri sendiri tidak lantas membuatmu tahu apa yang benar-benar dirimu mau. Sering bertaruh dengan kehidupan tidak juga membuat memahami permainan hidup. Polanya sering berubah, mungkin karena levelnya yang kunjung naik, mungkin juga karena masih belum paham bagaimana memainkan, karena pelajaran akan diulang sampai paham, bukan?
Sekali lagi, berharap pada pilihan yang "semoga benar".