"Duka menyukai kesendirian."
Perempuan itu mendekap lututnya sendiri. Menghalau dingin yang berusaha masuk ke tulang rusuknya. Namun siapapun paham, kesedihan lah yang menyakitinya.
"Putus cinta membuatnya terlihat sebagai orang paling nelangsa di dunia, keputus-asaan terhadap harapan membuatnya paham untuk apa air mata ada.
Perempuan ini telah mengalaminya tiga kali. Lagi, dia kehilangan orang yang dia metaforakan sebagai cinta." Katamu, malam itu.
"Tiga kali?" Tanyaku tak percaya.
Sambil menyecap teguk kopimu kau berujar lagi, "ya, katanya pelajaran akan selalu diulang hingga kita paham, ya? Mungkin karena ada nilai-nilai yang belum mampu dia tuntaskan. Atau mungkin, dia belum mengerti, beberapa pelajaran mempunyai standar tersendiri."
"Aku masih belum mengerti, apa maksudmu? Apa perempuan ini punya banyak kesalahan? Kenapa kau menyalahkannya?", tanyaku.
"Haha, tidak tidak, aku tidak menyalahkannya. Tapi mungkin saja, salah dan benar hanya tentang persepsi, sayang. Ada lebih dari itu yang seharusnya kita dapatkan. Kita harus mengerti tiap alasan kenapa suatu jawaban dianggap salah atau benar, itulah sebenar-benar jawaban."
Perempuan itu beranjak, meninggalkan mejanya, berdiri, lantas memakai dengan cepat sepatu di depannya. Aku baru menyadari satu hal, wajahnya cantik sekali.