Aku masih mengingat betapa aku yang bersikeras menolak semua ajakanmu. Semua kesempatan yang kamu tawarkan, kamu iming-imingkan.
Aku ingin memberimu beberapa masukan. Mungkin aku memang bukan orang yang tepat. Atau bukan pula orang yang mampu mewujudkan semua bahagiamu. Sebab telah aku luruhkan semua kesempatan bersamamu, pada waktu itu.
Kamu tidak sendirian. Sesakit apapun yang kamu rasakan, kamu tidak sendirian. Aku menulis ini untuk mengingatkanmu bahwa kamu tidak sakit sendiri. Pula menyalahkan diri. Entah kita sama-sama salah atau memang tidak ada yang salah sama sekali diantara kita. Seharusnya hanya kita tidak merasa sakit sendiri.
Aku coba mengingatkanmu betapa egoisnya aku. Betapa tidak teraturnya hidupku, Berantakan. Rusak. Cacat. Tak sempurna. Tak ada yang cukup untuk dibanggakan. Bahkan entah, masih berhak bernyawa atau tidak. Yang pasti, terlalu sulit untuk kamu genapi.
Mungkin ini bukan waktu yang tepat. Sebenarnya pun aku tak tahu kapan 'waktu yang tepat' itu. Tapi yakinlah, kita masih perlu sendiri.
Beberapa manusia ditakdirkan untuk hidup bersama, tapi mungkin itu bukan takdir kita. Jatah kita, sebaliknya. Mungkin kita ditakdirkan bertemu untuk mengantarkan takdir manusia yang lainnya. Six degrees of separation, maybe? :')
Aku ingin menasihatkan segalanya padamu. Segala tentang yang aku dapat selama ini. Segala hal yang mungkin akan membantumu menjalani hidupmu nanti.
Tidak pernah ada yang aku sesalkan dari pertemuan kita, tidak pula saat perkenalan hingga masa-masa saling menyakiti. Hanya saja, bila kita bisa memutar waktu, bisakah kita berpisah tanpa ada luka sama sekali?
Ah, aku lupa. Bukankah beberapa hal dipelajari dari luka?
Kamu, selamat jalan. Semoga bahagia.