*saya nemu ini di draft blog saya, tertanggal 28 Januari 2011, tapi, saya pikir ini perlu dibaca. #notetoself mungkin :) *
Waktu kamu berumur tiga tahun,
kamu bilang ingin jadi dokter
karena pernah terpesona pada jas putihnya
Dua tahun kemudian,
kamu ingin jadi guru
karena jatuh cinta pada guru TK-mu
yang bak pahlawan gagah penyelamat bumi.
Ketika kamu tiga belas tahun
kamu tak ingin jadi apa-apa
karena kamu benci jadi dewasa.
Tapi dua tahun kemudian
kamu mati-matian ingin jadi penyanyi atau model, pokoknya selebriti.
Apa pun yang bisa membuatmu tampil di tv.
Tapi setahun kemudian kamu tahu
jadi selebriti tak selalu menyenangkan
dan kamu tahu kamu bisa hidup mewah dengan jadi pialang saham.
Kamu juga tahu melindungi kera di hutan tropis mungkin sangat memuaskan.
Setelah ulang tahun kedelapan belas muncul ketakutan-ketakutan
kamu akan gagal,
selamanya tak menjadi siapa-siapa.
Suatu saat nanti,
bila kamu sudah dua puluh tahun,
melamun di ruang kuliahmu,
bertanya-tanya,
apakah kamu telah melewati jalan yang benar?
Mungkinkah memulai semua dari awal?
Waktu usiamu tiga puluh,
kamu tahu kamu mungkin salah melangkah,
bekerja di hotel
ketika lebih suka memakai jins belel.
Suatu saat,
di antara usia belasanmu,
kamu khawatir tak pernah menemukan pujaan hati.
Tapi kamu salah
karena sedetik kemudian kamu bertemu dengannya,
menatapnya kagum karena ia bagai dewa.
Kamu ragu, apakah dia orang itu?
Tapi siapa peduli?
Siapa yang tahu kamu salah atau benar?
Siapa yang bisa memberitahu
apa yang sebenarnya di ujung jalan sana
kalau bukan kamu yang berjalan di atasnya?
Tapi kamu salah lagi,
dia orang yang salah.
Dia bukan dewa.
Kamu menyesal, kecewa, dan remuk.
Kamu takut akan salah untuk kesekian kalinya.
Tapi tak perlu, tak perlu kecil hati,
meski tahu tak bisa berbalik lagi.
Kamu tetap bisa berbelok, kamu selalu bisa berbelok,
karena jalan selalu punya persimpangan, meski entah di mana.
Bila tak bisa mundur,
tak perlu takut,
kita selalu bisa berubah arah.
Dikutip dari novel Dokter, Pelukis, & si Cowok Plin-Plan. Oleh Ken Terate