dia.
Berdiri di suatu pojok dengan kaos dan jeans hitam seperti biasa.
Mata kami bertemu; saling memastikan.
Tidak ada yang berani beranjak, memangkas jarak yang kira-kira hanya sepuluh jejak.
Pada saat itu saya berjanji pada diri saya sendiri bahwa bila pada hitungan ke tujuh dia menghampiri, saya akan mengatakan segalanya. Merobohkan segala pertahanan diri yang sempat saya bangun sebab ego sendiri, berjanji untuk mengatakan betapa saya merindukan dia dan berharap dia mengerti segala kebodohan dan keras-kepalanya diri ini, hingga meminta dia kembali.
Tapi tidak.
Bahkan hingga hitungan ke sepuluh.
Dan saya pun pergi.
Kembali menyadarkan diri bahwa tidak ada yang bisa diperbaiki.
dan kata-kata harus lah mati.
30 Januari 2020. 11.02 PM
habis sadar bahwa saya sering begini