Tuesday, January 19, 2016

Saya masih percaya bahwa setiap manusia memiliki ruang sepinya sendiri. Dia, bagaimana pun keadaannya, mempunyai ruang jeda yang hanya dimiliki oleh dirinya sendiri.

Ruang sepi ini kadang bisa ia bagi pada orang yang mengerti tentang bagaimana kewarasan-kewarasan tetap terjaga karena adanya percakapan yang menyalurkannya. Toh, bagaimana pun adalah dasar manusia untuk berkomunikasi bukan?

Saya pun, begitu. Weekend kemarin saya menemani seorang teman berjalan-jalan, ke beberapa tempat sekaligus untuk mencari beberapa barang dan melihat-lihat. Sebelum pulang, kami memutuskan untuk makan. Tiba-tiba dia menanyakan ini : "Pinkan, kamu kalo bilang makasih ke mas-mas atau mbaknya gitu fake smile apa karena kenapa sih? Aku sih heran aja liatnya, maksudnya dia aja kadang ngelayaninnya sekenanya aja tapi kamu dari tadi bilang makasih terus. Kalo aku kasihnya sih ke yang emang pelayanannya bagus beneran." Saya cukup kaget juga sih sebenernya dia bertanya gitu, tidak pernah berpikiran bahwa dia memperhatikan.

Bagi saya, setiap orang sudah cukup lelah dengan hari-hari yang dia alami, apalagi, dalam pekerjaannya. Saya mengalaminya sendiri, bertemu dengan pekerjaan yang itu-itu saja sudah cukup membuat saya menghela napas, tanpa perlu ditambah dengan perlakuan orang lain yang tidak menyenangkan. i do believe a smile can lighter the wounds. That's why i smile to them, and that's why i smile to myself.

Ruang sepi ini tidak akan pernah lari meskipun kamu coba untuk sembunyi. Tidak akan pula bertambah hingar ketika kepalamu pengar. Ia, adalah bagian dari dirimu sendiri. Akrabi dan temani lah saat kamu lengang. Suatu saat nanti, dia akan bertransformasi menjadi ruang menyenangkan untuk dibagi ketika kamu bertemu si kausal kunci.

Selasa, 19 Januari 2016.
Pinkan kayaknya butuh untuk mulai nulis banyak lagi.