Kekhawatiran menghantuiku seperti senyummu. Dia berdiri di pojok ruangan kamar tidurku. Bersinar ketika malam tiba dan tak ada penerangan apa-apa. Di pukul dua pagi tadi aku melihat seringainya. Dia pikir, itulah saatnya. Menghabisiku dan segala di kepala. Menuntaskan segala risau dan hirau di sudut mata.
Aku membiarkannya melakukan apa tujuannya.
Agar saat kau kembali nanti, tak ada penyesalan yang perlu dirayakan. Atau erangan-erangan serta tangisan yang perlu diteriakkan.
Sebab, kekhawatiran telah mengambil peranan paling dalam.