"Sebenarnya hal gila apa yang sedang kamu rencanakan? Mempertahankan hubungan yang tidak dilandasi rasa cinta adalah sebuah kebodohan, Tara. Kita hanya hidup sekali, dan hampir semua orang di dunia sedang mencari cinta sejatinya. Sedang kamu?"
Dia Reza, perempuan yang hampir 10 tahun terakhir ini menjadi seseorang yang kusebut sahabat. Jauh dari orang tua dan hidup di perantauan menjadikan kita hanya bisa mengandalkan satu sama lain.
Aku tahu, dia benar. Tapi aku sudah tidak tahu lagi bagaimana menjelaskannya. Bahkan kepada orang yg bisa mengetahui hidupku itu, aku tidak bisa memberi alasan kenapa.
"Entah lah. Kami hanya tahu ini yang kami inginkan. Berpisah bukan keinginan kami. Tidak dia, tidak aku, Reza. Berpisah menjadi momok yang paling mengerikan buatku saat ini. Bahkan aku lebih bisa mendengar dia mencari perempuan lain, agar aku dapat mengakhiri ini. Agar aku mendapat alasan logis kenapa aku berpisah dengannya. Tapi tidak Reza, dia tidak begitu. Dan aku bersyukur dia tidak begitu." tandasku malam itu.
"Ra, kamu tahu apa yang paling aku tidak mengerti dari kalian berdua? Bahwa jauh didalam diri kalian, aku hanya tahu kalian sama-sama membutuhkan dan saling mencintai. Tapi ego kalian sama-sama tinggi. Dan yang ku tahu, cinta itu toleransi, Tara. Bila memang benar kalian tidak dijatuhi cinta lagi, bagaimana kalian bisa saling mengerti bahwa komitmen ini hanya harus dihidupi?"
-saya sedang berusaha menulis cerpen lanjutan dari cerpen sebelumnya; The Boy And The Girl Who Can't Break Up