Q: Jadi bagaimana hidupmu sekarang?
A : Apa maksudmu?
Q: Kau tau apa yang ku maksud. Bahagia?
A : Tidak juga.
Q : Tidak? Setelah apa yang kau lakukan? Sejauh ini?
A : Memangnya apa yang telah aku lakukan?
Q : Bersembunyi.
A : Bersembunyi? Apa sih yang kau maksud?!
Q : Jadi, kau belum lelah selama ini bersembunyi?
A : Maumu apa?!
Q : Yakin belum lelah?
A : Entahlah. Bahkan sebenarnya aku tak pernah tau aku bersembunyi dari apa. Semu.
Q : Mungkin, kau harus mencoba untuk menampakan dirimu, sesekali.
A : Buat apa?
Q : Pertama, memastikan dirimu tidak sakit saja bila keluar dari persembunyian itu.
A : Tidak. Aku nyaman kok begini.
Q: Nyamanmu itu semu kan?
A : Tidak. Siapa bilang?! Aku bahagia kok.
Q : Orang lain bisa kau bohongi, tapi aku tidak. Aku ini dirimu sendiri.
A : Apa sih maumu?!
Q : Bagaimana bila, kau coba melepaskan dirimu? Sebentar saja.
A : Tidak, bagaimana bila dalam waktu 'sebentar saja'mu itu mereka mengetahui semuanya?
Q : Ohhh, lihatlah bagaimana takutnya dirimu.
A : Kau mengejekku?
Q : Apa kau harus terus-menerus menyakiti dirimu sendiri seperti ini? Beri dirimu sendiri ruang. Kau hanya belum siap. Hingga terus menerus menolak orang-orang yang datang untuk membahagiakanmu. Mungkin, kau seharusnya sudah bahagia bila tidak terus menerus memeluk dirimu sendiri seperti ini. Seharusnya. Tapi coba lihat, kau menolak mereka, menghindari mereka, menyuruh mereka berhenti hanya dengan alasan bahwa mereka akan menyakiti mereka sendiri bila terus bersama mu. Kau membiaskan alasan sebenarnya bahwa kau yang sebenarnya belum siap.
A : Tapi memang benar kan mereka yang tidak tulus kepadaku?
Q : Tau apa kau soal tulus? Kau bahkan tidak tau apa itu jujur.
A : Ehm, begini saja, apa maumu sekarang?
Q : Terserah kau sajalah. Kau yang punya hidup. Dan aku rasa kamu pintar untuk memahami apa yang harus kamu lakukan, kamu cuma menutup mata dengan pertanyaan retorismu itu. Aku pergi dulu.