Saturday, January 19, 2013

Kepada Kamu


Kepada kamu yang aku lihat dari jauh.

Mungkin, ketika kamu membaca surat ini, kerut dikeningmu akan bertemu, dan mengira-ira siapa pengirimnya. Ah, kamu tak perlu tahu. Terus baca saja hingga kamu mengerti kenapa.

Kamu ingat, pertemuan pertama kita dua tahun yang lalu? Saat itu aku sendirian, terdiam ditengah keramaian sebab menunggu namaku disebut dalam tes wawancara early program di kampus kuliahmu. Mungkin kamu mengingat gadis kecil dengan tampang lusuh-dilanda-migraine yang kamu beri sebotol air mineral itu . Iya, itu aku. Mungkin berkat sebotol air mineral yang kamu beri itu aku mampu meminum neuralgin. Bodoh juga aku waktu itu, lupa membawa air minum dan masa bodoh nanti-beli-aja-disana padahal aku masih belum tahu apa-apa  lingkungan kampusmu. Kepada kamu, terima kasih.

Sejak hari itu, aku mencari tahu tentangmu. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.
Beruntunglah, kamu menjadi panitia ospek waktu itu. Hingga dengan mudah aku mampu mencari tahu namamu, jurusanmu, angkatanmu dan hal lain tentangmu. Dan masih mencari tahu, hingga surat ini, mengganggu pikiranku.

Aku yang hanya mampu diam ini. Yang tidak mempunyai keberanian sedikitpun untuk berterima kasih atau sekedar menyapamu ini kini telah menyerah.

Waktu itu, entah kenapa dibulan Desember aku tiba-tiba memimpikanmu. Tiba-tiba ingin bertemu, berbincang dan memelukmu. Hingga hari ini aku mencoba menguburnya, memenjarakan kembali keinginan itu. Dan tiba-tiba saja kata 'menyerah' datang memojokkan. Dan logika mulai berdebat dengan hati. Menyerah pun mengambil alih kekuasaan. Memenangkan perdebatan yang hanya terjadi dikepala.

Entah apa yang terjadi denganmu. Semoga kamu baik-baik saja.
Ketika aku memiliki firasat bahwa tidak akan pernah bertemu lagi dengan kamu; namun juga ketika semesta menolak pinta ku, sekeras apapun aku mencoba memberitahu, memperingatkan bahkan mencoba bertemu denganmu. Aku hanya harus ikhlas, bahwa itu tidak akan pernah terjadi. Jadi mungkin rasa suka satu arah ini hanya dapat berakhir seperti ini. Hanya akan berakhir dengan memori ingatan, berlembar-lembar cerita tentang kamu, dan juga, surat terakhir untuk kamu ini.

Setelah ini, aku hanya akan mencoba membaca lagi tulisanku tanpa menuliskan apa-apa lagi, mengingat kamu tanpa mengkhayalkan lagi. Semoga hanya akan menjadi ziarah ingatan. Semoga.

Semoga penantianku hanya sampai dititik ini. Semoga keinginanku untuk bersama kamu juga berakhir dengan tanda titik diujung surat ini. Aku akan menyerah dan mencoba mengikhlaskan kamu pergi. Dan semoga, aku bahagia. Dan kamu pun. Semoga.

Yogyakarta,  19 Januari 2013.

Aku yang dulu memujamu,