Kau pernah berhenti didepanku, setahun yang lalu.
diwajahmu tersirat duka,
Dimatamu tersimpan luka,
Dan hatimu, tergeletak tak bernyawa.
Kau meneteskan airmata didepanku.
"ini terlalu lara" katamu.
Darah yang mengalir aku coba untuk hentikan.
Lebam yang terkikir aku coba untuk hilangkan.
Hingga wajahmu bersih.
Hatimu putih.
Dan jiwamu pulih.
Ketika kita tertawa, kau melihat burung terbang di angkasa.
Tanyamu, "mereka akan kemana?"
"Entah, menemui takdir mungkin."
Dan kau pun merenung.
Dipagi buta, kau bergegas ke utara.
"aku harus menemui takdir" katamu.
"Kemana? Bukankah aku ini 'takdir'?"
Kau terdiam. Lalu pergi.
Aku pun, hanya berharap kau kembali.
Satu tahun, dua tahun.
Kau tak kunjung kemari.
Mungkin, karna kau tak miliki luka lagi.
Hingga mesti datang kemari.
